PALANGKA RAYA – Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Kalimantan Tengah, Andi Bustan, menegaskan pentingnya koordinasi antarwilayah untuk menjaga keseimbangan pasokan daging ayam di Kota Palangka Raya. Selain itu, ia mendorong peternak lokal agar terus berkembang sehingga mampu menjadi pemasok utama kebutuhan masyarakat.
“Peternak lokal harus tetap menjadi pemasok utama, bukan justru tersisih oleh pasokan dari luar daerah,” ujarnya belum lama ini.
Berdasarkan data yang dihimpun, kebutuhan daging ayam di Kota Palangka Raya mencapai sekitar 30 ribu ekor per hari. Namun, kapasitas produksi peternak lokal saat ini baru mampu menyuplai sekitar 27 ribu ekor per hari. Kondisi tersebut menyebabkan masih adanya kekurangan pasokan di pasar tradisional.
Ketidakseimbangan antara permintaan dan ketersediaan pasokan ini kerap memicu lonjakan harga daging ayam di pasaran, yang dapat mencapai Rp45 ribu per kilogram. Situasi tersebut biasanya terjadi saat permintaan meningkat, sementara stok di tingkat pedagang terbatas. Oleh karena itu, Andi Bustan kembali menekankan pentingnya penguatan peran peternak lokal sebagai pemasok utama.
Sementara itu, Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perdagangan, Koperasi, UKM, dan Perindustrian Kota Palangka Raya, Fajar Bhakti, menjelaskan bahwa kenaikan harga daging ayam umumnya bersifat sementara.
“Lonjakan harga biasanya hanya berlangsung maksimal tiga hari, terutama menjelang hari besar keagamaan,” jelasnya.
Fajar menambahkan, saat ini sejumlah peternak lokal mulai beralih ke sistem peternakan semi modern, khususnya di Kecamatan Rakumpit. Ia berharap pengembangan tersebut dapat meningkatkan produksi ayam lokal secara bertahap sehingga kebutuhan harian masyarakat Kota Palangka Raya dapat terpenuhi secara optimal. (*)






